thanks for visiting,come back soon for more:)

Selasa, 13 Agustus 2013

Fenomena Siswa Tidak Bisa Bicara Selain Bahasa Ibu


Menyimak bayi Normal bisa bicara ada beberapa tahap yang dilalui :
  1. Bayi mendengarkan suara sekitar, coba teman-teman membuat suara di dekat bayi maka bayi akan mencari suara yang teman-teman buat.
  2. Bayi akan berlatih satu dua kata untuk berbicara, biasanya orang tua akan mengajari terus bayi secara berulang-ulang.
  3. Bayi akan menirukan Bahasa yang digunakan oleh orang di lingkungan bayi tinggal untuk bicara.
  4. Keaktifan orang tua dalam mengajak bicara yang memperngaruhi kelancaran dan kecepatan dalam bayi bisa bicara.
Lalu bagaimana dengan siswa yang di Sekolah mempelajari Bahasa selain Bahasa Ibu (misal : Inggris dan Jerman)?.

Yang menjadi fenomena adalah Siswa Tidak Bisa Bicara Selain Bahasa Ibu,  coba teman-teman ajak siswa bicara selain Bahasa Ibu. Pasti hasilnya bisa teman-teman tebak sendiri kan?.

Menurut saya ada beberapa hal yang menyebabkan Siswa Tidak Bisa Bicara Selain Bahasa Ibu :

Pertama : 
Mengambil analogi diatas, Siswa TK, SD, SMP dan SMU seharusnya tidak jauh berbeda dalam mempelajari bahasa selain Bahasa Ibu, dengan tahap Bayi bisa bicara.
Siswa dibiasakan Guru berbicara selain Bahasa Ibu di Sekolah. baru setelah itu Siswa diajak bicara satu dua kata setelah itu tahap Membaca dan Menulis Bahasa selain Bahasa Ibu.
Tetapi yang dipelajari di Sekolah adalah Bahasa Ibu diajarkan sebagai Bahasa adalah Keilmuan, dimana tata bahasa dan lain sebagainya dipelajari.
Ya, wajar saja Siswa Tidak Bisa Bicara Selain Bahasa Ibu, bicara saja belum lancar malah disuguhi tata bahasa.
Dalam hal ini Bahasa adalah kebiasaan sering kita lupakan.
Kalau diurutkan agar siswa bicara selain Bahasa Ibu seharusnya Listening – Speaking – Reading – Writing bukan Reading - Listening - Speaking - Writing.

Kedua :
Kurangnya kompetensi Sekolah.
Yang menjadi persoalan adalah berapa besar Sekolah yang semua Guru, Staff TU, Penjaga Sekolah, Kepala Sekolah yang lancar bicara selain Bahasa Ibu?.
Jaman Kakek saya dulu, wajar saja bisa berbahasa Belanda, lah... Gurunya Orang Belanda yang bisa Bahasa Belanda.
Memang perlu biaya, waktu, dan tenaga agar Sekolah memiliki semua Guru, Staff TU, Penjaga Sekolah, Kepala Sekolah yang lancar bicara selain Bahasa Ibu.
Apalagi Sekolah bertaraf Internasional sudah dihapuskan (kalau ini sih fenomena lain ya...)
Ketiga dan seterusnya...
Nah... Giliran teman-teman untuk menambahi, silakan isi di kotak komentar ya.
Terima kasih.
 
 
Cr: Sumber-informasi-kita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

To Top Page Up Page Down To Bottom Auto Scroll Stop Scroll